Kunjungan Ke Monumen Nasional (MONAS)

Kuliah Kerja Lapangan (KKL) merupakan salah satu aktifitas yang dilakukan oleh mahasiswa FKIP UNMAS Denpasar pada tanggal 12 – 18 Desember 2011. Pada hari ketiga dalam Kuliah Kerja Lapangan tepat pada hari Rabu, 14 Desember 2011 mahasiswa mengunjungi Monumen Nasional yang terletak di Jakarta untuk malakukan pengamatan terhadap Monumen Nasional.

di Monas

Terlebih dahulu saya akan membicarakan tentang latar belakang keberdaan dari Monumen Nasional (MONAS). Monumen Nasional atau yang dikenal dengan Monas atau Tugu Monas terletak di Lapangan Monas, Jakarta Pusat, yang dibangun pada tahun 1961. Monumen Nasional adalah salah satu dari monumen peringatan yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah Belanda.

Bentuk Tugu peringatan yang satu ini sangat unik, merupakan batu obeliks yang terbuat dari marmer yang berbentuk lingga yoni simbol kesuburan berdasarkan kebudayaan Hindu. Tugu ini menjulang setinggi 132 meter yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang berbentuk nyala obor perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35 kg. Obor atau lidah api yang menyala-nyala ini merupakan simbol semangat perjuangan rakyat Indonesia yang tak pernah padam dalam meraih kemerdekaan. Tugu Peringatan Nasional dibangun di areal seluas 80 hektar. Arsitek yang merancang tugu ini adalah Soedarsono dan Frederich Silaban, dengan konsultan Ir. Rooseno, mulai dibangun secara resmi 17 Agustus 1961 oleh Presiden RI Soekarno. Monas resmi dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975.

Pelataran puncak dengan luas 11 meter x 11 meter dapat menampung sebanyak 50 pengunjung.Sebuah elevator (lift) pada pintu sisi selatan akan membawa pengunjung menuju pelataran puncak  di ketinggian 115 meter dari permukaan tanah. Lift ini berkapasitas 11 orang sekali angkut. Dari pelataran puncak, 17 meter lagi ke atas, terdapat lidah api, terbuat dari perunggu seberat 14,5 ton dan berdiameter 6 m, terdiri dari 77 bagian yang disatukan.Pelataran puncak tugu berupa “Api Nan Tak Kunjung Padam” yang berarti melambangkan Bangsa Indonesia agar dalam berjuang tidak pernah surut sepanjang masa. Tinggi pelataran cawan dari dasar 17 m dan ruang museum sejarah 8 meter. Luas pelataran yang berbentuk bujur sangkar, berukuran 45 meter x 45 meter, merupakan pelestarian angka keramat Proklamasi Kemerdekaan RI (17-8-1945).

Di bagian dasar monumen pada kedalaman 3 meter di bawah permukaan tanah, terdapat Museum Sejarah Nasional Indonesia. Ruang besar museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas 80 x 80 meter, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang. Ruangan besar berlapis marmer ini terdapat 48 dioramapada keempat sisinya dan 3 diorama di tengah, sehingga menjadi total 51 diorama. Diorama ini menampilkan sejarah Indonesia sejak masa pra sejarah hingga masa Orde Baru.

Di bagian dalam cawan monumen terdapat Ruang Kemerdekaan berbentuk amphitheater. Ruangan ini dapat dicapai melalui tangga berputar di dari pintu sisi utara dan selatan. Ruangan ini menyimpan simbol kenegaraan dan kemerdekaan Republik Indonesia. Diantaranya naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang disimpan dalam kotak kaca di dalam gerbang berlapis emas, lambang negara Indonesia, peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia berlapis emas, dan bendera merah putih, dan dinding yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Setelah mengetahui Latar belakang keberadan dari Monumen Nasional, sekarang kita dapat mengambil ilmu bahwa dalam kaitannya dengan pembelajaran Matematika, Tinggi Monumen Nasional dapat dihitung dengan menggunakan SISTEM PERBANDINGAN. Selain itu kita dapat mengetahui bahwa rancangan konstruksi malai dari ketinggian, bentuk, dan luas dari Monumen Nasional itu menggunakan rancangan yang tidak sembarangan dan menggunakan sistem perbandingan yang sangat detail dari bagian-bagian yang menopangnya sehingga Menumen ini dapat berdiri kokoh dan menjadi simbol negara Republik Indonesia sampai saat sekarang ini. Dan diatas puncak menara Monumen Nasional kita dapat mengamati seluruh kota Jakarta dengan menggunakan SISTEM JURUSAN 3 ANGKA yaitu menentukan keberadaan suatu objek dari puncak menara MONAS.

Posted on Desember 25, 2011, in KKL FKIP UNMAS Denpasar 2011. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s